Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2017

Pergi Membawa Hati

Pergi Membawa Hati


Maafkan aku wahai hati.
Membiarkanmu kembali tergores luka yang sama.
Aku sudah memperingatkanmu.
Aku sudah berdebat denganmu.
Namun kau tetap acuh.
Aku tau kau ingin bersarang di hatinya.
Namun, seharusnya bukan dia.
Bukan padanya kau tertambat.
Karena tak ada ruang untukmu di sana.
Tuhan, bolehkah aku pergi?
Membawa hatiku yang kembali teriris.
Menghilang bersama laju sang waktu.
Berlari jauh dari luka lama yang tertoreh lagi.
Entah sampai kapan.
Mungkin hingga hati ini siap tersenyum menyapa dunia.
Karena aku hanya manusia biasa.
Bukan malaikat yang tak mengerti luka.


Surabaya, 06 Agustus 2017



Melepas Rasa


Dalam diam aku menyerah, lelah.
Berharap benih kasihmu tumbuh mekar.
Namun hanya tandus yang terlihat.
Aku melangkah mengikutimu.
Ternyata hanya bayanganmu.
Aku menatapmu.
Kau berpaling.
Aku mengejarmu.
Kau menghidar, jauh.
Namamu terukir.
Namaku tak pernah kau pikir.
Kuselipkan kamu dalam doaku.
Kamu selipkan dia dalam doamu.
Aku hanya debu yang tak terlihat.
Lewat, terhempas angin.
Ingin memeluk erat rasa ini hingga takdir Tuhan berkehendak.
Namun tak kuasa ketika melihatmu pergi.
Siapalah aku?
Tak pantas berharap bersanding denganmu.
Akhirnya, ku lepas rasa ini menguap ke langit.
Menyatu dengan awan.
Membiarkannya jatuh bersama hujan.
Dengan begitu aku bisa bebas.
Meski aku tak pernah jadi pilihan.


Surabaya, 06 Agustus 2017

Senja Tanpa Hadirmu


Senjaku kini tak lagi jingga.
Ronanya tertelan mendung pekat.
Namun aku masih di sini, tak bergeming.
Berbalut sepi berselimut dingin.
Karena hanya pada senja aku bisa berkaca.
Senja tetaplah senja.
Tak peduli apa yang terjadi di awal hari.
Ia akan tetap hadir walau tanpa jingga.
Ia memberitahu bahwa aku akan baik-baik saja tanpamu.
Kamu yang telah hadir membawa pelangi dalam hatiku.
Kamu yang mengisi hariku dengan penuh harapan.
Harapan untuk bersama menikmati senja sampai ujung usia.
Namun aku harus merelakan mu menikmati senja tanpa aku.
Pedih rasanya, tapi harus kunikmati.
Setidaknya saat ini aku masih bersama senjaku.
Jika tidak esok, kuharap lusa aku bisa melihat senjaku bersama jingganya.
Dengan begitu aku tau bahwa aku masih bisa melalui hariku tanpa hadirmu.





Surabaya, 06 Agustus 2017

Rahasia bersama Petang


Hai petang, apa kabarmu?
Boleh aku berbisik padamu?
Tapi jangan kau siarkan berita ini pada mentari.
Karena aku tak yakin ia akan tersenyum mendengarnya.
Ia bahkan akan tertawa, mengejekku.
Biarkan ia berlalu seperti biasanya.
Aku ingin memberi tau padamu.
Bahwa aku sudah tertawan.
Tak bisa lagi melangkah bebas.
Apa? Kau bertanya siapa yang menawanku?
Tentu saja olehnya, hanya dia.
Tubuhku akan membeku jika bersamanya.
Padahal sang mentari sedang tak bersahabat sinarnya.
Jantungku akan berdetak berlarian tak tentu arah.
Rasanya bunga-bunga cantik tumbuh di padang savana.
Bahkan petir kala hujan bak iringan piano kudengar.
Taukah kau apa yang terjadi padaku?
Hai petang, jawablah!
Aku tidak ingin mentari yang memergokiku.
Karena jika ia hadir, musnah sudah rahasiaku tentang dia.
Apa katamu?
Aku sakit?
Tidak mungkin?
Ah sudahlah, lupakan saja.
Anggap saja itu hanya dongeng pengantar tidurku.
Esok sang mentari akan membawanya sebagai cerita masa lalu.


Surabaya, 06 Agustus 2017

Hadirmu Menyapa Hati


Aku melangkah menapaki seribu mentari.
Membangun lapisan tebal mengelilingi hati.
Menyegelnya agar tak terjamah.
Membiarkannya kosong tanpa nyawa.
Namun keyakinanku tumbang kala hadirmu menyapa.
Menelusup ruang sepi yang lama terbengkalai.
Membongkar gembok pintu berlapis baja.
Meruntuhkan dinding yang beku dalam sekejap mata.
Bak salju mencair kala semi menyapa.
Bukan kau yang memikatku, namun pekertimu membuaiku.
Lagi-lagi aku bermain api.
Bahkan setelah tau bagaiamana panasnya berkali-kali.
Ah, ingin rasanya aku merantai diri.
Membiarkan hatiku terkurung dalam biliknya.
Agar ia tak lagi bebas, terhujam, terjerembab.
Namun hati tetaplah hati.
Ia bebas berlabuh dimana saja.
Walau tak tau apa yang kan menerjang.
Hanya berharap senyum hangat menyambut di ujung dermaga.
Mengalirkan kehangatan yang bernama cinta




Surabaya, 06 Agustus 2017

Sajak Rindu di Langit Kelabu

Sajak Rindu di LangitKelabu


Jingga berganti pekat.
Tak kutemui senyum sang dewi malam.
Pun pula kerlingan sang bintang.
Sendiri kurengkuh sepi.
Berteman dengan sunyi.
Walau begitu, langit malam tetap indah untukku.
Bersama malam, lirih kusampaikan sajak rindu.
Berharap menembus batas  langit.
Agar sampai padamu.
Kamu yang tak terjamah oleh indra ku.
Kamu yang hanya bisa hadir dalam angan ku.
Meski kita berpijak di bumi yang berbeda.
Namun kita bernaung di langit yang sama.
Karna aku sangat percaya.
Jika memang Tuhan berkehendak.
Kita berdua kan berpijak di bumi dan bernaung di langit yang satu.


            Surabaya, 15 Juni 2017

Senjamu Bukan Senjaku

Senjamu Bukan Senjaku


Aku di sini bersama senja.
Senjaku yang tak merona jingganya.
Entah mengapa aku tak bisa beranjak.
Melupakan senja di akhir ceritaku denganmu.
Berharap saat itu waktu membeku.
Menyisakan kita bersama sepi.
Kidung hati ini nyaring mengalun.
Namun kamu tak bergeming.
Ingin rasanya berteriak memecah hening.
Namun bibir ini bungkam menahan lara.
Isak pun tak mampu mengalir bak terhipnotis.
Ah, Tuhan... Harusnya senja ini jadi saksi.
Betapa aku tidak ingin terpisah oleh jarak.
Tapi hatimu tak ingin terkurung oleh rindu.
Bisa apa aku?
Hanya bisa tertunduk saat langkahmu menjauh dariku.
Untaian kalimat harap pun terbang bersama bayu.
Tak ada lagi cerita kita tentang senja.
Karena aku tau, senjamu tak kan lagi sama dengan senjaku.



Surabaya, 03 Juli 2017

Luka Berbalut Rindu

LukaBerbalut Rindu


Hai mentari....
Tidakkah kau lelah mengitari bumi?
Aku bosan menemanimu hingga penghujung hari.
Entah berapa kali senja aku disini.
Bahkan dia tidak pernah tau bahwa aku ada.
Menunggu hadirnya, berteman sepi.
Penantian ini sama seperti menggores nadiku.
Perlahan, perih.
Tak ada yang bisa merasakannya kecuali aku.
Ah, aku menyerah.
Bolehkah aku pergi?
Mengikuti arahmu di ufuk barat cakrawala.
Membenamkan diri dalam kerak bumi.
Mengobati luka yang enggan membekas.
Luka yang entah kapan mengering.
Andai saja dia tau bahwa aku terluka dengan rinduku.
Namun andai tetap saja sebagai andai.
Tak akan pernah berganti nama, percuma.
Aku lelah merindukannya.
Biarlah aku melangkah.
Meninggalkan semua hal tentang dia.
Hanya satu yang akan kubawa.
Sebuah luka terbalut rindu yang termakan oleh waktu.


Surabaya, 11 Juli 2017

Aku Bukan Pilihanmu

Aku Bukan Pilihanmu


Entah bagaimana caranya hatiku berlabuh.
Memilihmu untuk tempat bersandar.
Namun kamu tak pernah sadar.
Bahwa aku ada di hadapanmu.
Kamu tidak tau bahwa senyumku untukmu mengandung makna.
Kamu tidak tau bahwa tatapanku padamu mengandung cerita.
Ingin kusampaikan senandung cinta, namun enggan.
Ketika ku dengar deretan nama di hatimu, aku kecewa.
Tak ada aku di dalamnya.
Bukan salahmu karena kamu berhak atas cintamu.
Meskipun aku bukan pilihanmu, sajak hati ini tetap menggema.
Mengalun bersama sang bayu.
Menyibak heningnya cakrawala.
Melesat menuju Sang Pencipta.
Pemilik cinta yang hakiki.
Berharap jika saat ini aku bukan pilihanmu.
Semoga suatu saat aku ada dalam istikharahmu.



Surabaya, 07 Juni 2017

Kamis, 09 November 2017

Dimana Senjaku?

Dimana Senjaku?


Jangan tanya padaku dimana sang senja
Karena aku tak pernah menyembunyikannya.
Tanyakan pada dia yang membuat senja ku pekat
Dia yang menoreh mendung menutup bias jingga
Dia tak pernah tau bahwa aku kehilangan senjaku karenanya
Ingin aku menikam jantungnya
Mempersembahkan merah darahnya sebagai penghias cakrawala
Namun aku tak ingin mengotori tanganku
Hanya karna dia
Biarlah Sang pemilik senja yang menghukumnya
Suatu saat aku yakin senjaku kan kembali merona

Senin, 06 November 2017

Rindu dalam Pekat Purnama

Rindu dalam Pekat Purnama


Demi purnama....
aku rela melewati ribuan senja tanpa jingga.
Tak berarti aku acuh pada lukisan indah sang kuasa.
namun purnama menawanku, menyihirku.
ia mendekapku dengan sinarnya yang sempurna.
membuatku tak bergeming.
bersandar pada rindu.
rindu yang tak pernah sampai.
hanya tercekat, tak terucap.
rindu yang hanya angan.
sama seperti diriku, sang bayangan semu.
dalam pekat malam, kelam, tak terlihat.

Minggu, 05 November 2017

Cinta di Sepertiga Malam


Foto from : Google Pict

Cinta di Sepertiga Malam

Di sepertiga malam cinta menyapa
Saat itulah cinta hadir
Cinta yang tak terhalang jarak
Cinta yang bertebaran tanpa pengahalang
Apakah kita sudah merengkuhnya?
Atau  masih terbuai dalam dunia mimpi?
Tanyakan pada hati
Sudahkah ia siap mencintai Sang Pencinta?
Jika kau bertanya padaku
Aku akan menjawab
Sepertinya aku belum siap
Mungkin, karna itulah aku tak menemukan cintaku.
Tapi aku sangat yakin
Bahwa cinta Mu tidak hanya berlaku di sepertiga malam saja
Karna dalam setiap hembusan nafas
Setiap denyut nadi
Setiap detakan jantung
Ada cinta Mu
Aku saja yang benar-benar bodoh ketika berpaling dari Mu.

Menyusuri Mangrove Gunung Anyar - Amazonnya Surabaya

Menyusuri Mangrove Gunung Anyar - Amazonnya Surabaya Panas dan jarak yang jauh tak menyurutkan keinginan ku untuk datang ke Eco Mangrove d...